Posted by : Hartama-Chan
Jumat, 21 Februari 2020
KARYA : ARINAL HAQ
Warning : jangan ditiru adegan nista ini. ini hanyalah cerita rekayasa belaka. hanya sekedar untuk menghibur diri. tanpa kolaborasi. bisa jadi gak ada yang lucu di chapter ini.
Chapter 2
“Meow?” saat sedang melihat sekeliling, seekor kucing berdiri (?) di depan kita. Lalu kucing itu pergi melangkah dan masuk ke pintu belakang rumah Agung.
“Eh? Kok pintunya gak dikunci?” heran gua, Tia pun sama herannya. Kami saling bertukar pandang untuk beberapa saat. Kemudian Tia tersenyum licik dan bergegas masuk mengikuti kucing itu. “heh Tia? Tunggu dulu!”
“Apa yang ditunggu? Ini kesempatan kita buat maling rumah Agung.” Balas Tia sambil menyeringai dan benar-benar memasuki rumah itu. Gua hanya pasrah dan ikut masuk ke dalam. Gua lihat Tia sedang mengoprek peralatan dapur.
“Lagi ngapain?” Tanya gua sambil memperhatikan apa yang Tia lakukan.
“kan tujuan kita buat maling teh! Nah gua lagi nyari sendok sayur dia.” Gua sweatdrop di tempat. Ngapain tuh anak mau maling sendok sayur? “teteh cari yang lain dulu aja.”
“Heeh…” (masih sweatdrop)
“emhh.. ono opo kui.. HOAALAAH!! SOPO KOWE??!” Tiba-tiba saja muncul seorang remaja laki-laki berdiri di depan pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah menampakkan wajah terkejut.
“A-chan (panggilan gua buat Agung)?? Eh ini kita, Arin sama Tia!”
“Hah? Aku ngimpi kui.” Balas Agung. Sedangkan gua lihat Tia malah berusaha nyembunyiin sendok sayur yang sudah dia temukan tadi.
“Lu gak mimpi kok gung, mau gua bantuin buat getok kepala lu?” tawar gua sambil menyeringai.
“Ra usah, Aku wae.” ‘Tok’ ternyata dia sungguh-sungguh mengetok kepalanya. “Sakiit.. Berarti ini bukan mimpi?”
“Yah bukan lah.. buktinya kepala lu sakit kan?” balas gua tertawa ringan. Sedangkan Tia hanya menyengir ria di belakang Agung.
“Tapi aneh. Dari mana kalian masuk?”
“Dari pintu belakang lah ndro.” Jawab gua sambil menunjukan ekspresi wajah datar.
“Siapa yang buka pintunya?” Tanya Agung lagi.
“Tuh!” gua menunjuk kucing imut yang sedari tadi menonton percakapan kami dengan muka polosnya.
“Meow?”
“Pus pus?! Owalah.. yen mukamu ra imut, wes aku lantarkan kowe.” Ucap Agung gemas sambil mengelitik kucing yang ia panggil pus pus itu.
“Meow!” balas kucing itu hendak menyakar wajah Agung. Langsung saja Agung lepas dari genggamannya. “kebiasaan, lagi PMS kali.” Gumam Agung. “Heh, ngomong-ngomong, ngapain di sini? Kok kalian tiba-tiba ada di Solo?”
“Tia, Sini geh jangan di situ aja.” seru gua kepada Tia.
“Iyah.” Tia pun menghampiri gua dan berdiri di samping gua.
“Emm anu,” gua ingin menjelaskan, namun bingung harus menjelaskan bagaimana.
“Anu opo?”
“Sini ikut gua!” pinta gua pada Akhirnya. Gua keluar dari dapur ini menuju tempat tadi, di mana kami menaruh pintu kemana saja. Agung dan Tia berjalan mengikuti gua. Dengan Agung yang sebelumnya menutup pintu belakang terlebih dahulu. Gua menunjuk pintu kemana saja dan gua dapati raut wajah kebingungan dari Agung.
“Gua gak sengaja nemu kantong Doraemon. Dan kita memutuskan untuk pergi ke Solo menggunakan Pintu kemana saja. Emang aneh, tapi yah ini kenyataan.”
“YaAllah.. Subhanallah.. Aku ngimpi kui.”
“Ngalen jasa, dibejakeun kenyataan. Ngimpi deui ngimpi deui.” Ujar Tia tiba-tiba. Gua langsung menutup mulut menahan tawa. “Mun ngimpi geh, atuh tadi ngakan kolek jeung nginum es geh ngimpi.. haduh, atuh aing keneh puasa, ncan buka.”
“Hahaha, bisa aja luh.” Ucap gua sambil tertawa lepas. Gua lihat Agung menampakkan wajah melongonya. Gua pun semakin ingin tertawa melihatnya. “Hahaha, kenapa muka lu melongo gitu?”
“Si Tia ngomong apa? Gua gak ngerti.”
“Hmm.. Abaikan. Oh ya, ayo kita panggil Sanu.. kita jalankan misi kita.” Ucap Tia dengan tatapan semangat serta senyum licik terpatri di wajahnya.
“Misi opo? Maling?”
“Iyah lah.. Ayo kita Let’s go!” balas Tia langsung ngiber jalan duluan.
“Tunggu Tia! Emang lu tahu rumahnya?” Tanya gua menahan langkah Tia.
“Nggak.”
“Hahaha, dasar. Barang nyasar mah.” Balas gua.
“Wes yok, ikut aku.” Ucap Agung sambil mulai memimpin perjalanan. Gua berhenti sejenak untuk mengambil pintu kemana saja, dan dimasukkan kembali ke dalam kantong.
“Tunggu!” ujar gua sambil menyusul mereka.
~~oO0Oo~~
“Tok tok!” Agung mengetuk jendela kamar Sanu, gua dan Tia hanya diam menunggu.
“Nuu?? Ahsanu?” panggil Agung. Tak lama jendela pun terbuka.
“Eh ono opo gung? Wis bengi kui. Lho? Iku sopo?” ucap + Tanya Sanu. Gua dan Tia Cuma senyam-senyum gak jelas membalas tatapan Sanu.
“Kowe ra mungkin percoyo karo ceritaku. Aku wae masih ra percoyo.” Ucap Agung yang berhasil menciptakan perempatan di jidat gua.
“heh? Emang muka gua muka penipu apa?” sewot gua ke Agung. Agung Cuma nyengir dengan wajah tanpa dosanya.
“Kui Arin karo Tia.. kowe percoyo ora?”
“Hah?” kejut Sanu. Dia menatap kami dengan wajah sedikit keheranan dan tidak percaya. “Sing bener?”
“Jadi gini ceritanya, gua nemuin kantong Doraemon. Dan gua sama Tia pergi ke Solo menggunakan pintu kemana saja.” Jelas gua. Wajah Sanu masih linglung. Mungkin mengantuk.
“Sulit dipercaya..” ujar Agung sambil menyeringai. Ia menyender di tembok rumah Sanu serta melipat kedua lengannya di depan dada.
“huh..”
::: SKIP :::
Kami berempat tengah berjalan di jalan desa Sukoharjo. tepat pukul 22:13
“Apa kita benar-benar mau maling pohon jambu?” Tanya gua sambil terus berjalan.
“hmm.. Entah, pohon jambu kan gak enteng.” Jawab Sanu.
“Yaudah sii, maling jambu aja.” Saran Tia.
“Oke!! Di sana ada pohon jambu. Let’s go!” ucap Agung dengan bersemangat. Ia bergegas duluan kea rah perkarangan rumah salah satu warga di sini.
“Yosh!” gua pun mengikuti Agung dan menghampirinya. Tak terkecuali Tia dan Sanu.
“bentar.” Gua mengeluarkan kertas dan pulpen dari kantong Doraemon. Dan menulis beberapa kata di kertas ini.
‘Maaf bapak, ibu. Kami kumpulan maling berprestasi dan sopan, meminta izin untuk memaling jambu di pohon milik bapak dan ibu. Terimakasih. Semoga amal perbuatan Ibu dan Bapak diterima di sisi Allah SWT. Aamiin.”
“Siip, selesai.” Kemudian gua taruh kertas itu di kolong pintu rumah Ini.
“Aduh, itu kata-katanya kayak apa aja.. orangnya masih hidup geh.” Ucap Tia yang sedari tadi memperhatikan kata-kata yang sedang gua tulis.
“hehe.” Gua Cuma nyengir menanggapinya. Sementara itu sedari tadi Agung dan Sanu sudah berhasil mengambil beberapa buah jambu.
“Udah gung? Jangan banyak-banyak lah, kasihan yang punya rumah.” Ucap gua sambil menghampiri Agung dan Sanu.
“Udah nih. Tapi gak ada tempatnya.” Balas Agung. Gua pun mengambil sesuatu dari kantong ajaib. Dan keluarlah kotak yang berfungsi untuk menaruh makanan apa saja, dan sebanyak apa pun.
“Cepet masukin.” Bisik gua. Agung dan Sanu menaruh jambu-jambu itu di kotak ini. Lalu gua taruh kembali kotaknya ke dalam kantong.
“Sip, ayo pergi dari sini.” Ujar Tia. Kami semua mengangguk tanda setuju.
‘Cklek’
“Eh? Ngapain kalian?”
‘Deg’
Langkah kami terhenti oleh sebuah suara dari arah pintu utama rumah ini. kami lihat bapak pemilik rumah ini telah keluar dari dalam rumahnya dan terkejut melihat kami.
“Eh? Maaf pak. Kita permisi.” Ucap Tia disertai anggukan dari yang lainnya. Kami pun berjalan dengan sedikit cepat menjauhi rumah ini. Tak lama setelah kami sudah berada sedikit jauh dari rumah tadi, terdengar teriakan geram dari arah rumah tersebut. Kami pun semakin cepat berlari, dengan sesekali tertawa bersama.
BERSAMBUNG
Yosh! chapter 2 sudah update. maaf yah kalau gak lucu, soalnya chapter 2 ini murni buatan saya, tanpa kolaborasi sama Tia, jadinya gak lucu. maaf juga buat Agung dan Sanu kalau penulisan bahasa jawanya masih belepotan. kalau ada yang mau request dipersilahkan, hitung-hitung buat ngebantu nambah ide. dan makasih yah udah bersedia membacanya, semoga gak cepet bosan sama ceritanya. :)
Total Tayangan Halaman
Efek
Comment Box is loading comments...
5 videos about VICTORY MATCHER - VICTORY MATCHER
BalasHapus5 videos about VICTORY MATCHER · youtube · youtube · youtube how to convert youtube to mp3 · youtube · youtube · youtube · youtube · youtube · youtube · youtube · youtube · youtube · youtube.