Popular Post

Posted by : Hartama-Chan Jumat, 21 Februari 2020

 KARYA : ARINAL HAQ


Di malam hari yang ramai oleh kumandang takbir yang khas di telinga masyarakat pada malam menjelang hari raya Idul Fitri. Terlihat 4 sejoli  manusia tengah berdiskusi di bawah pohon mangga sembari membawa masing-masing satu sarung. Belum diketahui mengapa mereka membawa sarung, mari kita ikuti jalan cerita di bawah ini untuk mengetahuinya. ceck it out

 

Terlihat Agung yang tengah mengambil  sebuah senter dari dalam tas sekolahnya, dan yang lainnya hanya memperhatikan Agung.

 

“Ane bawa senter, buat maling malam ini. Dan kalian sudah membawa sarung masing-masing. Sekarang kalian pakai sarung itu dengan gaya ala maling nasional di Indonesia.” Kata Agung memberikan komando.

 

“Sip.”  Semuanya pun memakai sarungnya masing-masing. Berbeda dengan Sanu, dia memakai sarung layaknya seseorang yang ingin beribadah.

 

“Woy! Salah tuh makenya.” Ucap Tia yang sudah selesai memakai sarung ala maling nasional Indonesia.

 

“Ente semua gak denger apa? Barusan ada Adzan isya. Ane sholat dulu!” ucap Sanu dengan nada santainya. Kemudian ia lenggang pergi ke masjid seorang diri. Yang lain pun hanya saling tatap menatap.

 

“Lebih baik kita sholat dulu, demi menepati UU KMBDS yang telah kita buat. Yang salah satunya yaitu Kita harus sopan dan taat beribadah. Yuk!” ucap gua tiba-tiba sambil melepas sarung yang sebelumnya bertengger di kepala menyisakan kerudung panjang. Agung dan Tia pun sama-sama melepas sarungnya, kemudian Agung memakai sarung itu di pinggangnya seperti halnya Sanu.

 

Singkat cerita, setelah selesai sholat berjamaah di masjid terdekat. Kami berempat kembali ke tempat semula yaitu di bawah pohon mangga. Tanpa aba-aba dari siapapun, kami langsung memakai sarung di kepala ala ninja atau maling nasional Indonesia.

 

Kami kemudian berlari di tengah jalan yang sepi akan lalu lalang orang-orang. lalu kami lihat ada segerombolan anak muda yang terlihat tengah bercengkrama ria dan berjalan ke arah sini. Satu persatu dari kami pun bersembunyi di balik tembok rumah warga.

 

“EH?! SIAPA KALIAN?” tiba-tiba dibelakang kami ada seorang bapak-bapak yang langsung membuat bulu kuduk kami berdiri. Wajar saja, bapak itu ternyata membawa golok yang terlihat sangat tajam. Namun tiba-tiba saja…

 

“CYAAAT! Cyat! Cyat Cyat!” Agung memeragakan gerakan ala pendekar kabayan (?) seorang diri. Kami bertiga sempat keheranan. Karena kami adalah kumpulan maling berprestasi kami langsung connect dan mengikuti gerakan Agung.

 

“Cyaat!”

 

“Ayo maju!” tantang Sanu pada Agung, mereka pun pura-pura bermain pendekar-pendekaran (?) di depan bapak itu.

 

“Eh ada apa ini sebenarnya?” ucap bapak itu keheranan. Agung dan Sanu pun berhenti dari Kegiatan menari baletnya. (author ngaco)

 

“Kami sedang mencari tempat latihan untuk pentas besok di rumah nenek kami pak.” Ucap Agung memulai. Bapak itu kemudian mengangguk-angguk.

 

“Pentas apa?” Tanya bapak itu lagi. ‘nih bapak keponya sama kayak gua aje -_-‘ batin gua.

 

“Pentas untuk dipersembahkan kepada keluarga kami, tentang bela diri kungfu (lah tadi pendekar, sekarang kungfu, dasar author ngaco). Kami mohon izin untuk menggunakan tempat ini sebagai latihan.” Ucap Agung dengan nada yang sopan. Bapak itu pun tersenyum ramah dan memasukkan goloknya kembali ke dalam tempatnya yang menggantung di pinggang bapak tersebut.

 

“Baiklah. Tapi jangan terlalu berisik.” Setelah berucap seperti itu, bapak itu pun pergi. Kami semua langsung bernafas lega.

 

“Ide bagus gung!” sanjung gua pada Agung. Agung pun Cuma menyengir dengan gaya khasnya.

 

“Yo! Kowe ki marai ngguyu ae to gung!  lagamu koyo  opo ae cikrak!” ucap Sanu pada Agung. Agung pun membalasnya dengan tawaan yang khas.

 

“Oke! Semuanya udah tahu kan kita mau maling apa?” Tanya gua tiba-tiba. Tia dan Sanu mengangguk. Agung hanya diam di tempat.

 

“Mau maling apa oq? Aku lupa.” ucap Agung dengan polosnya. Kami bertiga pun memasang mata setengah.

 

“Maling kue lebaran.” Jawab gua. Agung hanya mengangguk-angguk.”Ayo semuanya, kita pergi ke salah satu rumah warga di desa ini.” Lanjut gua. Semuanya pun mengangguk dan mulai berjalan mengikuti gua. Gua lihat Sanu jalan sambil melamun, tapi terus mengikuti kami. Gua pun tersenyum licik. Sampai di sebuah rumah, gua ambil benda buat nyongkel jendela rumah ini. Agung dan Tia saling berpandangan heran.

 

“ini kan..” kata Agung pada Tia, Tia hanya diam sambil terus memasang wajah heran.

 

“Nah, karena tuan rumahnya lagi sama kita, mending langsung aja izin sama orangnya.” Kata gua. Sanu yang baru sadar setelah mendengar ucapan gua, langsung kaget setelah melihat jendela kamarnya terbuka.

 

“hei? Ini kan rumah ane?”

 

“Ahsanu! Kami selaku KMBDS meminta izin kepada anda untuk mengambil kue lebaran milik anda!” ucap kami bersamaan. Sanu hanya terdiam, selang 1 menit ia pun pasrah saja. Setelah begitu, kami satu persatu memasuki kamar sanu melalui jendela yang sudah terbuka tadi.

 

“Dimana lu naruh kue lebarannya?” Tanya gua. Sanu masih memasang wajah pasrah dan datar.

 

“Ayo ikutin gua!” kami bertiga pun mengikuti kemana Sanu melangkah. Setelah sampai di sebuah ruangan yang berisi banyak kue, kami bertiga pun berdecak kagum.

 

“Buanyak banget nu kuenya.” Kata Tia. “Pantes lu pasrah aja nu, orang banyak gini kuenya.”

 

“Hm. Ambil 3 aja.” Kata Sanu. Kami bertiga pun mengambil masing-masing 1 toples.

 

“Makasih nu..” Ucap kami bertiga sambil tersenyum jahil.

 

“Santai aja broo!” balas Sanu.

 

“Oke! Ayo kita keluar dari sini?” ucap Agung berbisik-bisik. Kami semua mengangguk dan kembali ke kamar Sanu dengan langkah hati-hati.

 

“PRANG

 

Setelah cukup jauh berlari, kami pun berhenti untuk istirahat di bawah pohon mangga yang sebelumnya kami gunakan untuk rapat (?).

 

“Oke! Misi KMBDS kali ini sudah selesai!” ucap Tia.

 

“Lah? Piye ki senterku ora di nggo opo-opo?” Tanya Agung. Yang lainnya pun tertawa bersama.

 

“Lagian siapa yang nyuruh lu bawa senter?” balas Tia.

 

“Hahahaha..” Tawa gua, Tia, dan Sanu.




                                                 END -  Malam Takbiran

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Total Tayangan Halaman

Efek

Comment Box is loading comments...

- Copyright © TAMA ID - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -