Popular Post

Recent post

Archive for Februari 2020

 KARYA : ARINAL HAQ


Di malam hari yang ramai oleh kumandang takbir yang khas di telinga masyarakat pada malam menjelang hari raya Idul Fitri. Terlihat 4 sejoli  manusia tengah berdiskusi di bawah pohon mangga sembari membawa masing-masing satu sarung. Belum diketahui mengapa mereka membawa sarung, mari kita ikuti jalan cerita di bawah ini untuk mengetahuinya. ceck it out

 

Terlihat Agung yang tengah mengambil  sebuah senter dari dalam tas sekolahnya, dan yang lainnya hanya memperhatikan Agung.

 

“Ane bawa senter, buat maling malam ini. Dan kalian sudah membawa sarung masing-masing. Sekarang kalian pakai sarung itu dengan gaya ala maling nasional di Indonesia.” Kata Agung memberikan komando.

 

“Sip.”  Semuanya pun memakai sarungnya masing-masing. Berbeda dengan Sanu, dia memakai sarung layaknya seseorang yang ingin beribadah.

 

“Woy! Salah tuh makenya.” Ucap Tia yang sudah selesai memakai sarung ala maling nasional Indonesia.

 

“Ente semua gak denger apa? Barusan ada Adzan isya. Ane sholat dulu!” ucap Sanu dengan nada santainya. Kemudian ia lenggang pergi ke masjid seorang diri. Yang lain pun hanya saling tatap menatap.

 

“Lebih baik kita sholat dulu, demi menepati UU KMBDS yang telah kita buat. Yang salah satunya yaitu Kita harus sopan dan taat beribadah. Yuk!” ucap gua tiba-tiba sambil melepas sarung yang sebelumnya bertengger di kepala menyisakan kerudung panjang. Agung dan Tia pun sama-sama melepas sarungnya, kemudian Agung memakai sarung itu di pinggangnya seperti halnya Sanu.

 

Singkat cerita, setelah selesai sholat berjamaah di masjid terdekat. Kami berempat kembali ke tempat semula yaitu di bawah pohon mangga. Tanpa aba-aba dari siapapun, kami langsung memakai sarung di kepala ala ninja atau maling nasional Indonesia.

 

Kami kemudian berlari di tengah jalan yang sepi akan lalu lalang orang-orang. lalu kami lihat ada segerombolan anak muda yang terlihat tengah bercengkrama ria dan berjalan ke arah sini. Satu persatu dari kami pun bersembunyi di balik tembok rumah warga.

 

“EH?! SIAPA KALIAN?” tiba-tiba dibelakang kami ada seorang bapak-bapak yang langsung membuat bulu kuduk kami berdiri. Wajar saja, bapak itu ternyata membawa golok yang terlihat sangat tajam. Namun tiba-tiba saja…

 

“CYAAAT! Cyat! Cyat Cyat!” Agung memeragakan gerakan ala pendekar kabayan (?) seorang diri. Kami bertiga sempat keheranan. Karena kami adalah kumpulan maling berprestasi kami langsung connect dan mengikuti gerakan Agung.

 

“Cyaat!”

 

“Ayo maju!” tantang Sanu pada Agung, mereka pun pura-pura bermain pendekar-pendekaran (?) di depan bapak itu.

 

“Eh ada apa ini sebenarnya?” ucap bapak itu keheranan. Agung dan Sanu pun berhenti dari Kegiatan menari baletnya. (author ngaco)

 

“Kami sedang mencari tempat latihan untuk pentas besok di rumah nenek kami pak.” Ucap Agung memulai. Bapak itu kemudian mengangguk-angguk.

 

“Pentas apa?” Tanya bapak itu lagi. ‘nih bapak keponya sama kayak gua aje -_-‘ batin gua.

 

“Pentas untuk dipersembahkan kepada keluarga kami, tentang bela diri kungfu (lah tadi pendekar, sekarang kungfu, dasar author ngaco). Kami mohon izin untuk menggunakan tempat ini sebagai latihan.” Ucap Agung dengan nada yang sopan. Bapak itu pun tersenyum ramah dan memasukkan goloknya kembali ke dalam tempatnya yang menggantung di pinggang bapak tersebut.

 

“Baiklah. Tapi jangan terlalu berisik.” Setelah berucap seperti itu, bapak itu pun pergi. Kami semua langsung bernafas lega.

 

“Ide bagus gung!” sanjung gua pada Agung. Agung pun Cuma menyengir dengan gaya khasnya.

 

“Yo! Kowe ki marai ngguyu ae to gung!  lagamu koyo  opo ae cikrak!” ucap Sanu pada Agung. Agung pun membalasnya dengan tawaan yang khas.

 

“Oke! Semuanya udah tahu kan kita mau maling apa?” Tanya gua tiba-tiba. Tia dan Sanu mengangguk. Agung hanya diam di tempat.

 

“Mau maling apa oq? Aku lupa.” ucap Agung dengan polosnya. Kami bertiga pun memasang mata setengah.

 

“Maling kue lebaran.” Jawab gua. Agung hanya mengangguk-angguk.”Ayo semuanya, kita pergi ke salah satu rumah warga di desa ini.” Lanjut gua. Semuanya pun mengangguk dan mulai berjalan mengikuti gua. Gua lihat Sanu jalan sambil melamun, tapi terus mengikuti kami. Gua pun tersenyum licik. Sampai di sebuah rumah, gua ambil benda buat nyongkel jendela rumah ini. Agung dan Tia saling berpandangan heran.

 

“ini kan..” kata Agung pada Tia, Tia hanya diam sambil terus memasang wajah heran.

 

“Nah, karena tuan rumahnya lagi sama kita, mending langsung aja izin sama orangnya.” Kata gua. Sanu yang baru sadar setelah mendengar ucapan gua, langsung kaget setelah melihat jendela kamarnya terbuka.

 

“hei? Ini kan rumah ane?”

 

“Ahsanu! Kami selaku KMBDS meminta izin kepada anda untuk mengambil kue lebaran milik anda!” ucap kami bersamaan. Sanu hanya terdiam, selang 1 menit ia pun pasrah saja. Setelah begitu, kami satu persatu memasuki kamar sanu melalui jendela yang sudah terbuka tadi.

 

“Dimana lu naruh kue lebarannya?” Tanya gua. Sanu masih memasang wajah pasrah dan datar.

 

“Ayo ikutin gua!” kami bertiga pun mengikuti kemana Sanu melangkah. Setelah sampai di sebuah ruangan yang berisi banyak kue, kami bertiga pun berdecak kagum.

 

“Buanyak banget nu kuenya.” Kata Tia. “Pantes lu pasrah aja nu, orang banyak gini kuenya.”

 

“Hm. Ambil 3 aja.” Kata Sanu. Kami bertiga pun mengambil masing-masing 1 toples.

 

“Makasih nu..” Ucap kami bertiga sambil tersenyum jahil.

 

“Santai aja broo!” balas Sanu.

 

“Oke! Ayo kita keluar dari sini?” ucap Agung berbisik-bisik. Kami semua mengangguk dan kembali ke kamar Sanu dengan langkah hati-hati.

 

“PRANG

 

Setelah cukup jauh berlari, kami pun berhenti untuk istirahat di bawah pohon mangga yang sebelumnya kami gunakan untuk rapat (?).

 

“Oke! Misi KMBDS kali ini sudah selesai!” ucap Tia.

 

“Lah? Piye ki senterku ora di nggo opo-opo?” Tanya Agung. Yang lainnya pun tertawa bersama.

 

“Lagian siapa yang nyuruh lu bawa senter?” balas Tia.

 

“Hahahaha..” Tawa gua, Tia, dan Sanu.




                                                 END -  Malam Takbiran

KMBDS (Kumpulan maling berprestasi dan sopan) - Ver. Malam Takbiran

  KARYA : ARINAL HAQ

 

Warning : jangan ditiru adegan nista ini. ini hanyalah cerita rekayasa belaka. hanya sekedar untuk menghibur diri. tanpa kolaborasi. bisa jadi gak ada yang lucu di chapter ini.

 

Chapter 2

 

“Meow?” saat sedang melihat sekeliling, seekor kucing berdiri (?) di depan kita. Lalu kucing itu pergi melangkah dan masuk ke pintu belakang rumah Agung.

 

“Eh? Kok pintunya gak dikunci?” heran gua, Tia pun sama herannya. Kami saling bertukar pandang untuk beberapa saat. Kemudian Tia tersenyum licik dan bergegas masuk mengikuti kucing itu. “heh Tia? Tunggu dulu!”

 

“Apa yang ditunggu?  Ini kesempatan kita buat maling rumah Agung.” Balas Tia sambil menyeringai dan benar-benar memasuki rumah itu. Gua hanya pasrah dan ikut masuk ke dalam. Gua lihat Tia sedang mengoprek peralatan dapur.

 

“Lagi ngapain?” Tanya gua sambil memperhatikan apa yang Tia lakukan.

 

“kan tujuan kita buat maling teh! Nah gua lagi nyari sendok sayur dia.”  Gua sweatdrop di tempat. Ngapain tuh anak mau maling sendok sayur? “teteh cari yang lain dulu aja.”

 

“Heeh…” (masih sweatdrop)

 

“emhh.. ono opo kui.. HOAALAAH!! SOPO KOWE??!” Tiba-tiba saja muncul seorang remaja laki-laki berdiri di depan pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah  menampakkan wajah terkejut.

 

“A-chan (panggilan gua buat Agung)?? Eh ini kita, Arin sama Tia!”

 

“Hah? Aku ngimpi kui.”  Balas Agung. Sedangkan gua lihat Tia malah berusaha nyembunyiin sendok sayur yang sudah dia temukan tadi.

 

“Lu gak mimpi kok gung, mau gua bantuin buat getok kepala lu?” tawar gua sambil menyeringai.

 

“Ra usah, Aku wae.” ‘Tok’ ternyata dia sungguh-sungguh mengetok kepalanya. “Sakiit.. Berarti ini bukan mimpi?”

 

“Yah bukan lah.. buktinya kepala lu sakit kan?” balas gua tertawa ringan. Sedangkan Tia hanya menyengir ria di belakang Agung.

 

“Tapi aneh. Dari mana kalian masuk?”

 

“Dari pintu belakang lah ndro.” Jawab gua sambil menunjukan ekspresi wajah datar.

 

“Siapa yang buka pintunya?” Tanya Agung lagi.

 

“Tuh!” gua menunjuk kucing imut yang sedari tadi menonton percakapan kami dengan muka polosnya.

 

“Meow?”

 

“Pus pus?! Owalah.. yen mukamu ra imut, wes aku lantarkan kowe.” Ucap Agung gemas sambil mengelitik kucing yang ia panggil pus pus itu.

 

“Meow!” balas kucing itu hendak menyakar wajah Agung. Langsung saja Agung lepas dari genggamannya. “kebiasaan, lagi PMS kali.” Gumam Agung. “Heh, ngomong-ngomong, ngapain di sini? Kok kalian tiba-tiba ada di Solo?”

 

“Tia, Sini geh jangan di situ aja.” seru gua kepada Tia.

 

“Iyah.” Tia pun menghampiri gua dan berdiri di samping gua.

 

“Emm anu,” gua ingin menjelaskan, namun bingung harus menjelaskan bagaimana.

 

“Anu opo?”

 

“Sini ikut gua!” pinta gua pada Akhirnya. Gua keluar dari dapur ini menuju tempat tadi, di mana kami menaruh pintu kemana saja. Agung dan Tia berjalan mengikuti gua. Dengan Agung yang sebelumnya menutup pintu belakang terlebih dahulu. Gua menunjuk pintu kemana saja dan gua dapati raut wajah kebingungan dari Agung.

 

“Gua gak sengaja nemu kantong Doraemon. Dan kita memutuskan untuk pergi ke Solo menggunakan Pintu kemana saja. Emang aneh, tapi yah ini kenyataan.”

 

“YaAllah.. Subhanallah.. Aku ngimpi kui.”

 

“Ngalen jasa, dibejakeun kenyataan. Ngimpi deui ngimpi deui.” Ujar Tia tiba-tiba. Gua langsung menutup mulut menahan tawa. “Mun ngimpi geh, atuh tadi ngakan kolek jeung nginum es geh ngimpi.. haduh, atuh aing keneh puasa, ncan buka.”

 

“Hahaha, bisa aja luh.” Ucap gua sambil tertawa lepas.  Gua lihat Agung menampakkan wajah melongonya. Gua pun semakin ingin tertawa melihatnya. “Hahaha, kenapa muka lu melongo gitu?”

 

“Si Tia ngomong apa? Gua gak ngerti.”

 

“Hmm.. Abaikan. Oh ya, ayo kita panggil Sanu.. kita jalankan misi kita.” Ucap Tia dengan tatapan semangat serta senyum licik terpatri di wajahnya.

 

“Misi opo? Maling?”

 

“Iyah lah.. Ayo kita Let’s go!” balas Tia langsung ngiber jalan duluan.

 

“Tunggu Tia! Emang lu tahu rumahnya?” Tanya gua menahan langkah Tia.

 

“Nggak.”

 

“Hahaha, dasar. Barang nyasar mah.” Balas gua.

 

“Wes yok, ikut aku.” Ucap Agung sambil mulai memimpin perjalanan. Gua berhenti sejenak untuk mengambil pintu kemana saja, dan dimasukkan kembali ke dalam kantong.

 

“Tunggu!” ujar gua sambil menyusul mereka.

 

~~oO0Oo~~

 

 

“Tok tok!” Agung mengetuk  jendela kamar Sanu, gua dan Tia hanya diam menunggu.

 

“Nuu?? Ahsanu?” panggil Agung. Tak lama jendela pun terbuka.

 

“Eh ono opo gung? Wis bengi kui. Lho? Iku sopo?” ucap + Tanya Sanu. Gua dan Tia Cuma senyam-senyum gak jelas membalas tatapan Sanu.

 

“Kowe ra mungkin percoyo karo ceritaku. Aku wae masih ra percoyo.” Ucap Agung yang berhasil menciptakan perempatan di jidat gua.

 

“heh? Emang muka gua muka penipu apa?” sewot gua ke Agung. Agung Cuma nyengir dengan wajah tanpa dosanya.

 

“Kui Arin karo Tia.. kowe percoyo ora?”

 

“Hah?” kejut Sanu. Dia menatap kami dengan wajah sedikit keheranan dan tidak percaya. “Sing bener?”

 

“Jadi gini ceritanya, gua nemuin kantong Doraemon. Dan gua sama Tia pergi ke Solo menggunakan pintu kemana saja.” Jelas gua. Wajah Sanu masih linglung. Mungkin mengantuk.

 

“Sulit dipercaya..” ujar Agung sambil menyeringai. Ia menyender di tembok rumah Sanu serta melipat kedua lengannya di depan dada.

 

“huh..”

 

 

                                                          ::: SKIP :::

 

 

Kami berempat tengah berjalan di jalan desa Sukoharjo. tepat pukul 22:13

 

“Apa kita benar-benar mau maling pohon jambu?” Tanya gua sambil terus berjalan.

 

“hmm.. Entah,  pohon jambu kan gak enteng.” Jawab Sanu.

 

“Yaudah sii, maling jambu aja.” Saran Tia.

 

“Oke!! Di sana ada pohon jambu. Let’s go!” ucap Agung dengan bersemangat. Ia bergegas duluan kea rah perkarangan rumah salah satu warga di sini.

 

“Yosh!” gua pun mengikuti Agung dan menghampirinya. Tak terkecuali Tia dan Sanu.

 

“bentar.” Gua mengeluarkan kertas dan pulpen dari kantong Doraemon. Dan menulis beberapa kata di kertas ini.

 

Maaf bapak, ibu. Kami kumpulan maling berprestasi dan sopan, meminta izin untuk memaling jambu di pohon milik bapak dan ibu. Terimakasih. Semoga  amal perbuatan Ibu dan Bapak diterima di sisi Allah SWT. Aamiin.”

 

“Siip, selesai.” Kemudian gua taruh kertas itu di kolong pintu rumah Ini.

 

“Aduh, itu kata-katanya kayak apa aja.. orangnya masih hidup geh.” Ucap Tia yang sedari tadi memperhatikan kata-kata yang sedang gua tulis.

 

“hehe.” Gua Cuma nyengir menanggapinya. Sementara itu sedari tadi Agung dan Sanu sudah berhasil mengambil beberapa buah jambu.

 

“Udah gung? Jangan banyak-banyak lah, kasihan yang punya rumah.” Ucap gua sambil menghampiri Agung dan Sanu.

 

“Udah nih. Tapi gak ada tempatnya.” Balas Agung. Gua pun mengambil sesuatu dari kantong ajaib. Dan keluarlah kotak yang berfungsi  untuk menaruh makanan apa saja, dan sebanyak apa pun.

 

“Cepet masukin.” Bisik gua. Agung dan Sanu menaruh jambu-jambu itu di kotak ini. Lalu gua taruh kembali kotaknya ke dalam kantong.

 

“Sip, ayo pergi dari sini.” Ujar Tia. Kami semua mengangguk tanda setuju.

 

‘Cklek’

 

“Eh? Ngapain kalian?”

 

‘Deg’

 

Langkah kami terhenti oleh sebuah suara dari arah pintu utama rumah ini. kami lihat bapak pemilik rumah ini telah keluar dari dalam rumahnya dan terkejut melihat kami.

 

“Eh? Maaf pak. Kita permisi.” Ucap Tia disertai anggukan dari yang lainnya. Kami pun berjalan dengan sedikit cepat menjauhi rumah ini. Tak lama setelah kami sudah berada sedikit jauh dari rumah tadi, terdengar teriakan geram dari arah rumah tersebut. Kami pun semakin cepat berlari, dengan sesekali tertawa bersama.

 

 

BERSAMBUNG

 

 

Yosh! chapter 2 sudah update. maaf yah kalau gak lucu, soalnya chapter 2 ini murni buatan saya, tanpa kolaborasi sama Tia, jadinya gak lucu. maaf juga buat Agung dan Sanu kalau penulisan bahasa jawanya masih belepotan. kalau ada yang mau request dipersilahkan, hitung-hitung buat ngebantu nambah ide. dan makasih yah udah bersedia membacanya, semoga gak cepet bosan sama ceritanya. :)

 KARYA : ARINAL HAQ & MARYATUL QIBTIA


Nama gua Arinal haq, panggil aja gua Arin. Gua punya cerita tentang teman-teman sosial media gua bareng sepupu cewek gua. Di antaranya, Ahsanu Takwila, panggil saja dia Sanu atau Sanuke-chan, dia adalah sahabat gua dari gua kelas 3 SMP. kita kenal lewat Esia Messenger, sampai sekarang pun kita gak pernah ketemu secara langsung. Yang ke dua, Agung Hartomo, panggil dia Agung atau A-chan. Dia itu temen dekatnya Sanu, awal gua kenal dia waktu gua, Sanu, dan dia komenan bareng. Sama halnya kayak gua dan sanu, kita juga gak pernah ketemu langsung. Terakhir Maryatul Qhibtia, panggil saja dia Tia. Dia Sepupu yang asyik banget menurut gua, setiap kita ketemu selalu ada topik atau hal-hal yang dibuat lelucon.


Kita di facebook punya beberapa rencana ‘nista’. Entah itu maling jemuran tetangga, maling jambu, sampai maling pohonnya juga dibahas-bahas. Nah, yang buat gua heran.. tuh rencana kapan terlaksananya? gua sama tia kan belum pernah ketemu sama Sanu dan Agung. Apalagi rumah tuh dua bocah jauh banget. Bisa apa dari Tangerang ke Solo gua naik ojek payung? Haha Gile aje. Gempor kaki gua. Bisa-bisa nyampe Solo gua kayak lagu peterpan, kaki di kepala, kepala di kaki. (abaikan)


Chapter 1


Di sore hari, gua lagi jalan-jalan (jalan pake kaki, bukan mobil atau  pesawat) sendirian. Karena lagi bulan puasa, Kegiatan gua ini disebut ngababurit. Pas di tengah jalan, gua ngeliat sesuatu yang ganjil di dekat tong sampah.


“Lho? Ini apa ya?” karena penasaran, gua pun ngambil kain kecil itu. setelah gua perhatiin, kok ini kayak semacam kantong berwarna putih.


“Ini.. duh, jangan-jangan kantong Doraemon? Waaah.” Gua pun memasang ekspresi sumringah, langsung gua rogoh kantongnya.


“Wah bener, keluar senter pembesar. HAHAHA!!” gua ketawa-ketawa sendiri sambil pasang muka innocent. Sementara itu ada mbak-mbak lewat di samping gua.


“Jeuh eta jelema, kunaon boa?” gua pun kaget dan berhenti tertawa.


“Eh maaf, lain nenaon teh.” Mbak-mbak itu pun pergi sambil geleng-geleng kepala. Gua pun kembali pasang muka datar –seperti biasa- . sampai rumah gua langsung menyembunyikan kantong doraemon itu di lemari. Lalu, gua segera menghubungi Tia sepupu gua.


“Hallo?”


“Aya naon dia nelpon aing?”


“Nih gua nemuin kantong, kayaknya kantong Doraemon? Lu datang kesini dong, Cuma buat mastiin ini kantong Doraemon apa bukan.” Tiba-tiba Tia pun sudah ada di kamar gua.


“Eh, Tia? Muncul dari mana lu?”


“Dari jendela..”


“Lho kok bisa?”


“Lah? Lu lupa yah? Rumah lu kan di sebelah rumah gua.” Ucap Tia nyengir polos.


“HAHAHA. Oh iya yah, gua kok jadi lupa ya? Hehe.” Balas gua dengan cengiran khas.


“Mana kantong yang lu omongin tadi?” Tanya Tia sambil duduk di kursi meja belajar gua. Gua pun bergegas mengambil kantong ajaib itu di lemari.


“Nih, coba deh ambil sesuatu di dalam kantong itu.”


‘DUG DUG DUGG’  belum terlaksana percobaan kami, sudah terdengar suara bedug dari arah masjid di desa. Lalu kumandang adzan pun berbunyi merdu.


“Wah udah adzan nih. Yaudah buka dulu aja yuk?” saran gua.


“Buka naon meren?” tanya Tia dengan ekspresi kebingungan.


“Yah buka puasa lah. Emang apa lagi?” balas gua sambil ketawa ringan.


“Ooh kirain. Hehehe.”


“Hehe, nanti selesai teraweh kita coba ambil pintu kemana saja, semoga aja bisa. terus nanti kita jalankan misi mencuri itu. hoho” Saran gua sambil ketawa devil. Tia pun mengangkat satu jempolnya.


“Siiip!” ucapnya, lalu loncat kembali melalui jendela bagaikan seorang ninja. (bakat maling muncul :v)

 ~~oO0Oo~~


Waktunya telah tiba, saat dimana kita sudah selesai terawih. Gua dan tia sudah janjian bertemu di kebun belakang rumah. Meskipun gelap, tapi kita rapopo.


“Eh mana kantongnya?” Tanya Tia berbisik-bisik. Karena tidak ingin ketahuan orang lain.


“Bentar.” Gua pun mengeluarkan kantong tersebut dari saku celana panjang gua. Dengan tidak sabaran, gua merogoh kantong itu dan mengeluarkan pintu kemana saja dengan mudahnya. Kami terpana di tempat. Ini sungguh ajaib.


“Yosh! Kita atur tempat  tujuannya. Bentar yah.” Ucap gua sambil memandang fokus ke arah kenop pintu.


“Yowiiss.” Balas tia. Gua pun mulai mengaturnya, dan .. Selesai!


“Sip! Sekarang kita Let’s go ke Solo-Sukoharjo. Udah gua atur sampai belakang rumah Agung.” Tia pun mengangguk dengan pasrah. Gua mulai membuka pintunya. Dan jreng-jreng! Terlihat suasana yang gelap dan seram, ternyata ini kebun juga. Tapi kebun di belakang rumah Agung. Kami berdua mulai melangkahkan kaki masuk ke pintu kemana saja.


Dan wusshh~~ angin berkibar. Dua maling berprestasi dan sopan, beraksi!


BERSAMBUNG

Untuk Chapter 2 ada di link berikut

Total Tayangan Halaman

Efek

Comment Box is loading comments...

- Copyright © TAMA ID - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -